Ejaan Yang Disempurnakan

EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.

I.   PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING

A.    Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai unsur pertama kata pada awal kalimat. Misalnya:

Dia mengantuk.
Apa maksudnya?

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya:

“Kemarin engkau terlambat,” katanya.

“Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”.

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:

Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya:

          Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Imam Syafii.

5. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya:

Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?

Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.

B.     Huruf Miring

1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya:

majalah Bahasa dan Sastra,

buku Negarakertagama karangan Prapanca,

surat kabar Suara Rakyat.

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata. Misalnya:

Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.

Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.

 

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostama.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

    II.            PENULISAN KATA

             Singkatan atau Akronim

Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.

1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya:

                     A.S Kramawijaya

                     M.Sc.                                master of science

                    S.K.M                                sarjana kesehatan masyarakat

2. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya:

DPR                                 Dewan Perwakilan Rakyat

PGRI                               Persatuan Guru Republik Indonesia

3. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Misalnya:

dll.                                           dan lain-lain

dsb.                                         dan sebagainya

sda.                                          sama dengan atas

a.n.                                          atas nama

4. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya:

Cu                               cuprum

TNT                             trinitrotulen

cm                               sentimeter

5. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf capital. Misalnya:

ABRI                          Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

LAN                            Lembaga Administrasi Negara

6. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaptal. Misalnya:

Akabri                   Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Bappenas                     Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

7. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya:

pemilu                         pemilihan umum

radar                            radio detecting and ranging

       catatan:

Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

 

 III.            PENULISAN UNSUR SERAPAN

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam Bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, l’axplanation de l’homme. Unsur-unsur yang dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah penulisan bahasa serapan misalnya :

  • oe (oi Yunani) menjadi e

                   oestrogen                     estrogen

                   oenology                     enology

foetus                          fetus

  • oo (Belanda) menjadi o

komfoor                      kompor

provoost                      provos

  • oo (Inggris) menjadi u

cartoon                        kartun

proof                           pruf

pool                             pul

  • oo (vokal ganda) tetap oo

zoology                       zoology

coordination                koordinasi

  • ou menjadi u jika lafalnya u

gouverneur                  gubernur

coupon                        kupon

contour                        kontur

  • ph menjadi f

                      phase                           fase

                     physiology                   fisiologi

spectograph                 spektograf

  • kh (Arab) tetap kh

                      khusus                         khusus

akhir                            akhir

 IV.            PEMAKAIAN TANDA BACA

         A.    Tanda Titik (.)

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya:

Ayahku tinggal di Solo.

Hari ini tanggal 6 April 1973.

Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya:

III. Departemen Dalam Negeri

A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya:

Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya:

1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

5. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit. Misalnya:

Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.

6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

 

   B.     Tanda Koma (,)

1. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Satu, dua, … tiga!

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, atau melainkan. Misalnya:

Saya ingin datang, tetapi hari hujan.

Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya:

Kalau hari hujan, saya tida datang.

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya:

Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya:

…. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

…. Jadi, soalnya tidak semudah itu.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat. Misalnya:

                  O, begitu?

                  Wah, bukan main!

Hati-hati, ya, nanti jatuh.

Saya mendapat sebuah artikel yang terdapat kesalahan pada penulisan Ejaan Yang Disempurnakan.

Jakarta – Anak-anak zaman sekarang mungkin lebih mengenal tablet PC ketimbang mesin tik. Lantas, bagaimana jika perangkat jadul tersebut dilahirkan kembali, namun setelah ‘dikawinkan’ dengan gadget moderen.

Tentu ini akan menjadi sesuatu yang unik dan menarik. Nah, inilah yang dilakukan sebagian orang untuk menciptakan perangkat tersebut untuk membangkitkan kembali memori masa lalunya.

Anda pasti tak pernah berpikir untuk mengetik di iPad dengan mesin tik. Begitu pula dengan memainkan game di tablet PC tetapi memakai joy stick jadul ala Atari?

Itulah beberapa perangkat hasil ‘perkawinan’ perangkat jadul dan gadget modern ini. Seperti apa detailnya? Berikut seperti dilansir Business Insider, Selasa (11/12/2012).

Pada artikel diatas terdapat banyak kesalahan dalam menulisa kata, seperti :

–          Kata ‘Jadul’. Kata jadul bukan merupakan sebuah akronim, jadi kata ‘Jadul’ sebaiknya ditulis biasa saja tanpa perlu penyingkatan kata menjadi “Zaman dahulu”.

–          Kata “Dikawinkan” dan “Perkawinan”. Kata tersebut seharusnya diganti menjadi “Disatukan” karena yang bisa dikawinkan hanyalah makhluk hidup sedangkan pada artikel diatas bukan membahas tentang makhluk hidup.

–          Kata “Moderen”. Kata “Moderen” merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris. Seharusnya ditulis “Modern” tanpa harus menambahkan huruf walaupun sebenarnya cara membacanya adalah ‘moderen’.

–          Kata “Tak”. Seharusnya kata ini diganti dengan kata “Tidak”.

REFERENSI

http://inet.detik.com/read/2012/12/11/131413/2115209/317/unik-perkawinan-gadget-jadul-moderen

http://ciintadiiah.blogspot.com/2012/12/mencari-dan-memperbaiki-kesalahan.html

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf

Iklan

DIKSI ATAU PILIHAN KATA

Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pusat bahasa Departemen Pendidikan Indonesia adalah pilihan kata yg tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Fungsi dari diksi antara lain :

  • Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
  • Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
  • Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
  • Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

Diksi memiliki beberapa bagian, yaitu pendaftaran – kata formal atau informal dalam konteks sosial – adalah yang utama. Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fisik itu menggambarkan karakter yang aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.
Agar dapat menghasilkan pengungkapan yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang baik harus memenuhi syarat-syarat, yaitu:

  • Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.
  • Seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa bagi pembacanya.
  • Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti.

Jenis-Jenis Diksi

1.       Berdasarkan Makna

  •  Makna Denotatif

Makna denotatif menyatakan arti yang sebenarnya dari sebuah kata. Makana denotatif berhubungan dengan bahasa ilmiah. Makna denotasi dapat dibedakan atas dua macam relasi, pertama, relasi antara sebuah kata dengan barang individual yang diwakilinya, dan kedua, relasi antara sebuah kata dan ciri-ciri atau perwatakan tertentu dari barang yang diwakilinya.
Contoh : Bunga Melati

  •  Makna Konotatif

Makna konotatif adalah suatu jenis kata yang memiliki arti bukan sebenarnya. Contoh : Bunga Bank

2.       Berdasarkan Leksikal

  1. Sinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama.
  2. Antonim adalah dua buah kata yang maknanya “dianggap” berlawanan.
  3. Homonim adalah suatu kata yang memiliki lafal dan ejaan yang sama, namun memiliki makna yang berbeda.
  4. Homofon adalah suatu kata yang memiliki makna dan ejaan yang berbeda dengan lafal yang sama.
  5.  Homograf adalah suatu kata yang memiliki  makna dan lafal yang berbeda, namun ejaannya sama.
  6. Polisemi adalah suatu kata yang memiliki banyak pengertian.
  7. Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya.
  8. Hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata-kata hipernim

Pemilihan kata yang tepat sangat penting. Jadi, kita harus menggunakan pilihan kata yang tepat dalam kehidupan sehari-hari karena penggunaan kata yang salah dapat merubah makna yang sebenarnya. Penggunaan diksi yang tepat pada sebuah karangan juga dapat membuat karangan tersebut menjadi menarik untuk dibaca.

SUMBER :

http://astutimulefa.blogspot.com/2010/03/diksi.html

http://beareds.blogspot.com/2012/11/pengertian-kriteria-dan-jenis-diksi.html

http://disclamaboy.wordpress.com/2012/11/02/diksi-pengertian-dan-macam-macamnya/

Keragaman Bahasa Indonesia

Ragam bahasa adalah variasi pemakaian bahasa. Ragam bahasa merupakan variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik  yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Variasi bahasa yang berbeda-beda disebabkan berbagai faktor yang terdapat dalam masyarakat, seperti usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi, latar belakang budaya daerah, dan sebagainya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia memiliki berbagai ragam bahasa.

Chaer (2006:3) membagi ragam Bahasa Indonesia menjadi tujuh ragam bahasa. Pertama, ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Ragam bahasa ini disebut dengan istilah idiolek. Idiolek adalah variasi bahasa yang menjadi ciri khas individu atau seseorang pada saat berbahasa tertentu.

Kedua, ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat dari wilayah tertentu, yang biasanya disebut dengan istilah dialek. Misalnya, ragam Bahasa Indonesia dialek Bali berbeda dengan dialek Yogyakarta.

Ketiga, ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat dari golongan sosial tertentu, biasanya disebut sosiolek. Misalnya ragam bahasa masyarakat umum ataupun golongan buruh kasar tidak sama dengan ragam bahasa golongan terdidik.

Keempat, ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan suatu bidang tertentu, seperti kegiatan ilmiah, sastra, dan hukum. Ragam ini disebut juga dengan istilah fungsiolek, contohnya ragam bahasa sastra dan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa sastra biasanya penuh dengan ungkapan atau kiasan, sedangkan ragam bahasa ilmiah biasanya bersifat logis dan eksak.

Kelima, ragam bahasa yang biasa digunakan dalam situasi formal atau situasi resmi. Biasa disebut dengan istilah bahasa baku atau bahasa standar. Bahasa baku atau bahasa standar adalah ragam bahasa yang dijadikan dasar ukuran atau yang dijadikan standar.

Keenam, ragam bahasa yang biasa digunakan dalam situasi informal atau tidak resmi yang biasa disebut dengan istilah ragam nonbaku atau nonstandar. Dalam ragam ini kaidah-kaidah tata bahasa seringkali dilanggar.

Ketujuh, ragam bahasa lisan dan tulis. Ragam bahasa yang digunakan secara lisan yang biasa disebut bahasa lisan. Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan pelafalan. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.

Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.

Akhir-akhir ini di Indonesia sedang muncul tren bahasa baru yang disebut bahasa 4L4Y (baca: alay) . Bahasa ini sering sekali digunakan oleh kebanyakan remaja. Penulisan bahasa ini seperti dengan kombinasi huruf besar dan kecil serta kadang menggunakan angka-angka yang sulit dimengerti. Bahasa alay tidak termasuk kedalam ragam bahasa karena penulisannya yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Saat ini bahasa aneh dengan cepat menyebar ke kalang remaja. Semakin lama bahasa Indonesia akan terkikis. Remaja mulai meninggalkan dialeknya dan mengubah cara bicaranya menjadi kebarat-baratan. Bisa jadi lama-kelamaan turis yang ingin belajar bahasa Indonesia menjadi bingung bagaimana bahasa Indonesia yang sebenarnya. Karena apa yang terjadi di masyarakat tidak sama dengan yang mereka pelajari di lembaga resmi yang menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Sebagai warga Indonesia yang baik, seharusnya kita bisa mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik dan tutur kata yang sopan agar bahasa Indonesia bisa dikenal luas oleh dunia.

Sumber :

http://hendrapgmi.blogspot.com/2012/10/makalah-ragam-bahasa-indonesia.html

http://rizardian.blogspot.com/2012/10/ragam-bahasa-indonesia.html

http://nindyauntari.blogspot.com/2009/10/ragam-bahasa-indonesia-secara-lisan-dan.html